![]() |
| Sumber : model pembelajaran inovatif (muthmainnah, 2018) |
PENERAPAN MODEL FLIPPED CLASSROOM DENGAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI MAN 2 BANDUNG
1. Pendahuluan
Perkembangan
teknologi saat ini telah mempengaruhi kehidupan manusia di segala bidang,
termasuk dunia pendidikan. Penggunaan teknologi di dunia pendidikan sudah tidak
bisa dihindari lagi. Teknologi yang sering digunakan di dunia pendidikan adalah
penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Begitu tidak terbatasnya
informasi yang terdapat dalam internet dan kemudahan aksesnya yang begitu cepat
menjadikan internet dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran bagi guru.
Sementara untuk siswa dapat digunakan
untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan memperoleh informasi tambahan yang tak
terbatas sesuai dengan materi yang diperolehnya di kelas.
Model
pembelajaran yang digunakan di kelas pun harus dapat mengakomodir kemajuan
teknologi tersebut. Model model pembelajaran inovatif banyak dikembangkan
dengan tujuan untuk memberi pengalaman belajar yang berbeda kepada peserta
didik. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik harus dapat
menumbuhkembangkan keterampilan belajar abad 21 yang kita kenal dengan istilah
4C yaitu Communication, Colaboration,
Critical Thinking and problem solving, serta Creativity and Innovation. Model pembelajaran inovatif sangat
berbeda dengan model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran inovatif
sangat menekankan prinsip student
centered artinya pembelajaran lebih
memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya
secara mandiri dan dimediasi oleh teman sebaya. Menurut Mulyana (2015) Pembelajaran inovatif biasanya
berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sehingga membantu peserta didik
untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi
baru. Jadi peserta didik memperoleh pengetahuan melalui proses belajarnya.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran
ditunjukkan oleh pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam
perencanaan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang menarik belum tentu
dapat memastikan tercapainya tujuan
pembelajaran, karena tercapainya tujuan dalam
pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya pendidik,
peserta didik, lingkungan, metode/teknik pembelajaran serta pemilihan media pembelajaran yang digunakan.
Media pembelajaran sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Seringkali proses pembelajaran yang kita lakukan di kelas berlangsung secara
tidak efektif, banyak waktu, tenaga dan biaya terbuang sia-sia, sedangkan
tujuan pembelajaran tidak berhasil dicapai. Bahkan proses komunikasi antara
pendidik dan peserta didik pun tidak berjalan efektif dan efisien. Dengan
penggunaan media dalam pembelajaran maka tradisi lisan dan tulisan dapat
diperkaya dengan berbagai media pembelajaran.
Dalam
proses pembelajaran, seorang pendidik dapat menciptakan sebuah situasi kelas,
memilih metode pembelajaran yang akan digunakan, dan menciptakan iklim
emosional yang positif antar peserta didik. Bahkan seorang pendidik dapat
menggunakan media pembelajaran yang akan membantunya dalam pencapaian tujuan
pembelajaran. Dengan media pembelajaran, pendidik dapat membawa sesuatu yang
abstrak menjadi konkrit ke dalam ruang kelas. sehingga dapat dengan mudah
dimengerti oleh peserta didik. Pemilihan media pembelajaran yang tepat dapat
membawa pembelajaran berjalan efektif dan efisien, sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai.
Berdasarkan
pengalaman pribadi sebagai pendidik,
menggunakan model pembelajaran konvensional dalam menyelenggarakan
pembelajaran, dimana informasi disampaikan secara langsung dari pendidik kepada
peserta didik memiliki banyak kelemahan. Salah satu diantara kelemahan tersebut
adalah terbatasnya interaksi antara siswa dengan siswa, dan interaksi antara
siswa dengan sumber belajar, karena informasi disajikan langsung oleh guru.
Sehingga pola komunikasi yang terjadi hanya satu arah yaitu dari pendidik
kepada peserta didik. Pola seperti ini menghasilkan proses pembelajaran yang
monoton, peserta didik lebih cepat bosan dengan kegiatan pembelajaran, dan
hasil belajar yang kurang memuaskan. Proses pembelajaran dengan pola komunikasi
searah memerlukan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan materi sesuai
target kurikulum. Sehingga tujuan pembelajaran secara umum tidak mudah
tercapai.
Untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik dan untuk memudahkan mencapai tujuan
pembelajaran maka diperlukan sebuah model pembelajaran inovatif yang dapat
mengefektifkan kegiatan pembelajaran di kelas, baik dari segi interaksi siswa
maupun dari efektifitas waktu yang digunakan dalam pembelajaran. Model
pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran Flipped Classroom atau yang dikenal dengan istilah kelas terbalik.
Prinsip pembelajaran dengan model flipped
Classroom adalah membalikan aktivitas pembelajaran peserta didik. Pada
model ini apa apa yang biasa dilakukan di sekolah dapat dilakukan di rumah dan
apa apa yang biasa di lakukan di rumah dapat dilakukan di sekolah (Bergmann –
Sams (2012) dalam modul pembelajaran inovatif). Jika dalam kelas konvensional,
guru menyampaikan materi pelajaran di kelas dan kemudian memberi tugas
pekerjaan untuk dikerjakan di rumah, maka dalam flipped classroom guru memberikan tugas terlebih dahulu kepada
siswa untuk mempelajari materi yang akan dipelajarinya di kelas. Dalam model Flipped Classroom guru menyediakan media
pembelajaran berupa video pembelajaran, bahan ajar, referensi dan lainlain yang
dapat mendukung proses belajar peserta didik di rumah.
Pemilihan
media pembelajaran dalam flipped
classroom harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik saat ini. Di
tengah kemajuan teknologi smartphone
yang semakin canggih peserta didik sudah terbiasa dengan menggunakan smartphone untuk melakukan aktivitas
belajarnya. Sehingga paradigma cara belajar peserta didik mengalami
pergeseran dari tulisan kepada visual.
Sehingga media pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran flipped classroom adalah video pembelajaran.
Berdasarkan
latar belakang tersebut diatas, maka judul yang saya ambil dalam laporan karya
inovasi ini adalah penerapan model Flipped
Classroom dengan media video pembelajaran pada pembelajaran Fisika di MAN 2
Bandung.
2. Model
Pembelajaran Flipped Classroom
Flipped
Classroom
atau kelas terbalik merupakan suatu model pembelajaran yang membalikkan kondisi
kelas konvensional. Istilah flip
Classroom pertama kali dikenalkan oleh J. Wesley Baker dari Universitas
Cedarville. Namun secara manual tutorial Flipped
Classroom dibuat oleh Jonathan Bergman dan Aaron Sams (Nofrion:2018). Lebih
lanjut Flipped Classroom
dijelaskan
sebagai suatu metode pembelajaran yang dibentuk dari Blended Learning yaitu pembelajaran yang menggabungkan kelas
konvensional dengan kelas berbasis TIK. Dalam Flipped Classroom peserta didik mempelajari video pembelajaran atau
mendengarkan rekaman pembelajaran yang dilakukannya di rumah, kemudian mereka berdiskusi, bertukar pengetahuan,
menyelesaikan masalah, dengan bantuan peserta didik lain maupun pendidik,
melatih peserta didik mengembangkan kefasihan prosedural jika diperlukan, dan
membantu peserta didik dengan proyek-proyek yang menantang dengan kontrol
belajar yang lebih besar (Muthmainah:2018).
Ada
empat aspek yang harus dilakukan pendidik dalam menerapkan Flipped Classroom, yaitu :
1.
Flexibel
Environtment
(Lingkungan yang fleksibel)
Dalam
menciptakan lingkungan yang fleksibel, pendidik harus melakukan halhal berikut:
-
Pendidik
harus mampu merancang waktu dan ruang belajar sesuai kebutuhan peserta didik.
-
Pendidik
mengamati dan mengawasi peserta didik untuk membuat penilaian yang tepat
-
Pendidik
menyediakan beragam cara bagi peserta didik untuk mempelajari dan menguasai
konten.
2.
Learning
culture
(budaya belajar)
Untuk
menciptakan budaya belajar, pendidik harus memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran mandiri, serta memecah konten/
materi dalam beberapa tahapan agar mudah dipahami oleh semua peserta didik
dengan cara yang berbeda.
3.
Intentional
Content
(Konten yang dibuat)
Konten
yang dibuat harus mengutamakan konsep yang digunakan pada instruksi langsung
agar dapat dipahami peserta didik dengan caranya sendiri. Pendidik
mengembangkan konten yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pendidik
menyediakan beragam konten agar mudah diakses dan relevan untuk semua peserta
didik.
4.
Professional
Educator
( pendidik yang professional)
Pendidik
harus berperan sebagai pendidik yang professional yang mampu membimbing semua
peserta didik baik secara individu maupun kelompok dan memberikan umpan balik.
Pendidik melakukan penilaian formatif selama pembelajaran di kelas berlangsung
melalui pengamatan untuk menginformasikan instruksi berikutnya. Pendidik
berkolaborasi dan melakukan refleksi dengan pendidik lainnya.
Pembelajaran
Flipped Classroom dapat digambarkan
dengan skema berikut ini :
Gambar
2.1. Skema Flipped Classroom
Sumber :
model pembelajaran inovatif (muthmainnah, 2018)
Berdasarkan
skema diatas, model pembelajaran Flipped
Classroom terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
1.
Before
Class
Dalam
kegiatan before Class guru memberikan
tugas kepada peserta didik untuk menonton video pembelajaran yang telah
disediakan oleh guru. Peserta didik mengamati dan mempelajari video pembelajaan
yang diberikan oleh guru, membuat catatan dan menuliskan pertanyaan tentang apa
apa yang belum dipahaminya selama mempelajari video tersebut.
2.
During
Class
Pada
kegiatan pembelajaran di kelas peserta didik mendiskusikan hasil pemahamannya
terhadap materi yang sudah dipelajari dalam kelompoknya, antar peserta didik
berkolaborasi dan bertukar informasi, sesuai dengan pemahamannya, kemudian
peserta didik mempresentasikan hasil pemahamannya tersebut dalam diskusi kelas.
Guru memberikan penguatan terhadap hasil presentasi peserta didik. Di dalam
kegiatan pembelajaran guru bisa juga memberikan soal pemecahan masalah yang
harus dicarikan solusinya, menyelenggarakan eksperimen dan peserta didik
bekerja sama untuk mencari solusi permasalahan yang diberikan guru atau
melakukan eksperimen.
3.
After
Class
Setelah
kegiatan pembelajaran peserta didik memeriksa kembali pemahaman mereka dan
memperluas pembelajaran mereka.
3. Video Sebagai Media Pembelajaran
Video
merupakan sebuah media elektronik yang menggabungkan teknologi audio dan visual secara bersama, sehingga menghasilkan
suatu tayangan yang dinamis dan menarik. Video dapat dikemas menjadi VCD atau DVD
sehingga mudah dibawa kemana-mana, mudah digunakan dan dapat menjangkau audiens
yang lebih luas dan lebih menarik. (Yudianto,2017). Video dapat menyajikan
pesan berupa fakta (kejadian, peristiwa penting, berita) maupun fiktif seperti
misalnya cerita, bisa bersifat informatif, edukatif maupun instruksional,
Sadiman dalam Darmawan (2018).
Menurut
Azhar Arsyad dalam Darmawan (2018), Media video yang digunakan dalam proses
belajar mengajar memiliki banyak manfaat dan keuntungan, diantaranya adalah :
1.
video
dapat mengganti alam sekitar dan dapat menunjukkan objek yang secara normal
tidak dapat
dilihat oleh siswa, seperti proses pencernaan
dan pernafasan, cara kerja jantung dan lain lain.
2.
Video
dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat dilihat secara berulang
ulang
3. Video
dapat mendorong dan meningkatkan motivasi siswa untuk tetap melihatnya samapi
selesai.
Pemanfaatan
Video Pembelajaran sebagai media dalam pembelajaran memiliki fungsi atensi, fungsi afektif,
fungsi kognitif dan fungsi kompensatoris, Arsyad dalam Yudianto (2017). Fungsi
atensi yaitu dapat menarik perhatian dan mengarahkan konsentrasi audien pada
materi video. Fungsi afektif yaitu media video mampu menggugah emosi dan sikap
audiens. Fungsi kognitif yaitu media video dapat mempercepat pencapaian tujuan
pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan atau informasi yang terkandung
dalam gambar atau lambing. Sedangkan fungsi kompensatoris adalah memberikan
konteks kepada audien yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan
mengingat kembali informasi yang telah diperoleh. Jadi media video dapat
membantu peserta didik yang slow learner
menjadi mudah menerima dan memahami pesan yang disampaikan.
Di era
milenial seperti sekarang ini, kita dapat dengan mudah memperoleh aneka macam
video pembelajaran. Namun kita sebagai pendidik harus selektif dalam memilih
video sebagai media. Hal ini dilakukan agar video pembelajaran yang kita
gunakan sebagai media benar-benar memiliki konten yang sesuai dengan kurikulum
yang kita gunakan dan untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran yang
sudah tertera dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk memastikan bahwa
video pembelajaran yang kita gunakan sebagai media pembelajaran sesuai dengan
kurikulum dan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan, maka disarankan
pendidik harus membuat video pembelajarannya sendiri. Sudah banyak aplikasi
yang ada yang bisa kita gunakan untuk membuat video pembelajaran, diantaranya
Camtasia, filmora, Kinemaster dan lain-lain.
Video
sebagai media pembelajaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan media
lain. Adapun karakteristik media video yaitu :
1.
Menampilkan
gambar dan gerak serta suara secara bersamaan
2.
Mampu
menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas, karena terlalu
besar (seperti gunung), terlalu kecil seperti bakteri, terlalu abstrak seperti
bencana, terlalu rumit seperti proses produksi, terlalu jauh seperti kehidupan
di kutub dan sebagainya.
3.
Mampu
mempersingkat proses, seperti penyemaian padi hingga panen.
4. Memungkinkan
adanya rekayasa (animasi).
Sebagai
media pembelajaran, video memiliki kelebihan dan kelemahan.
Adapun kelebihan
video sebagai media adalah :
-
Dapat
menstimulir efek gerak
-
Dapat
diberi suara dan warna
-
Tidak
memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya
-
Tidak
memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya
-
Dapat
diputar ulang, diberhentikan sebentar dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan
pengguna.
Adapun
kekurangan media video pembelajaran adalah :
-
Memerlukan
peralatan khusus dalam penyajiannya
-
Memerlukan
tenaga listrik
-
Memerlukan
keterampilan khusus dan kerja tim dalam pembuatannya
- Sulit dibuat interaktif
4. Model Flipped Classroom pada Pembelajaran
Fisika
Penerapan
Model Flipped Classroom pada
pembelajaran fisika sama seperti penerapan model-model lain, diperlukan
perencanaan yang matang yang tertuang dalam RPP dan persiapan media
pembelajaran yang akan di gunakan
sebagai media dalam pembelajaran. Diawali dengan pembuatan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan membuat video pembelajaran sesuai dengan
materi yang akan disampaikan. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya
bahwa Model Flipped Classroom atau
model kelas terbalik adalah model pembelajaran yang berbeda dengan model
pembelajaran konvensional, pada model ini apa apa yang biasa dilakukan di
sekolah dapat dilakukan di rumah dan apa apa yang biasa di lakukan di rumah
dapat dilakukan di sekolah (Bergmann –
Sams, 2012) dalam muthmainah modul pembelajaran inovatif. Pada model ini terdapat 3 tahap proses
pembelajaran, yaitu Before class, during class dan After class. Pada video pembelajaran yang dibuat ditampilkan
pembelajaran pada konsep Gaya Coloumb dengan 3 tahapan pada Flipped Classroom.
Kegiatan pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Before Class
- Guru memberi tugas rumah seminggu sebelumnya kepada peserta didik untuk mengamati video pembelajaran yang berjudul Gaya Coulomb, Siswa mengamati dan menonton video pembelajaran di rumah.
Gambar 4.1. Peserta didik sedang menonton Video Pembelajaran
Sumber
: Koleksi Pribadi (2019)
- Siswa membuat catatan-catatan kecil mengenai apa-apa yang telah dipahaminya selama menonton video pembelajaran
- Siswa menuliskan pertanyaan tentang apa-apa yang belum dipahaminya selama menonton video pembelajaran
b. During Class
Pada saat pembelajaran :
-
Guru melakukan apersepsi, motivasi dan review materi pertemuan sebelumnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
- Guru memimpin diskusi kelas untuk mengetahui sejauh mana pemahaman materi peserta didik yang terdapat dalam video pembelajaran
- Peserta didik duduk berkelompok, menyampaikan pemahaman materi berdasarkan video pembelajaran yang sudah dilihatnya dalam diskusi kelas, secara bergantian tiap kelompok
- Guru memberikan penguatan terhadap materi-materi yang sudah dipahami peserta didik
- Guru memberikan permasalahan tiap kelompok untik didiskusikan dalam kelompoknya
- Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang disampaikan guru
- Siswa membuat media presentasi untuk dipresentasikan di depan kelas
- Guru memberikan arahan dan bimbingan tiap kelompok
- Setelah selesai membuat media presentasi perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
- Pada akhir pembelajaran, siswa dan guru membuat kesimpulan hasil pembelajaran
- Guru melakukan penilaian pembelajaran dan memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya
c. After Class
- Siswa mengecek kembali pemahamannya tentang materi yang sudah dipelajarinya
- Siswa mempelajari kembali materi materi yang ditugaskan oleh guru
Dengan
menggunakan model Flipped Classroom
siswa dilatih untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab.
Adapun materi yang disampaikan pada pembelajaran ini diambil dari materi
Fisika kelas XII pada bab Listrik Statis dengan tema Gaya Coulomb.
Penerapan
model Flipped Classroom didokumentasikan dalam video berikut
Video diatas dapat anda akses di https://youtu.be/jc0JrKveqo4
Beberapa
keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran Flipped Classroom adalah :
1.
Pembelajaran
dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran, disukai oleh mayoritas
peserta didik, karena di tengah kemajuan TIK yang semakin pesat, kegemaran
peserta didik menjadi bergeser ke arah visual. Guru dapat mengubah ketertarikan
visual peserta didik dengan menggunakan video pembelajaran.
2.
Flipped
Classroom
lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional karena dengan media
video pembelajaran peserta didik dapat mengatur kecepatan belajarnya, apabila
belum memahami materi pembelajaran peserta didik dapat mengulang-ulangi
pembelajaran sesuai pemahamannya. Dengan cara ini memungkinkan peserta didik
mencapai tujuan pembelajarannya secara efektif, dibandingkan dengan mendengarkan
ceramah guru yang pengulangannya terbatas.
3.
Peserta
didik terlatih untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab, karena menonton
video dilakukan secara mandiri di rumahnya. Jika peserta didik belum memahami
materi yang dilihatnya ia akan membuat pertanyaan yang akan didiskusikan di
kelas, denagn begitu peserta didik belajar bertanggungjawab atas kegiatan
belajarnya.
4.
Pembelajaran
lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan menyeluruh, artinya guru dapat
memberi pelayanan secara individual bagi peserta didik yang membutuhkannya hal
ini terlihat dari pertanyaan yang disampaikan peserta didik. Jika pertanyaannya
homogen maka guru dapat menjelaskan materi secara klasikal, dan apabila
pertanyaannya heterogen guru menjelaskan hanya kepada siswa yang membutuhkannya
saja.
5.
Dalam
pembelajaran model Flipped Classroom,
siswa yang mempunyai masalah belajar akan lebih banyak terbantu, karena peserta
didik yang belum memahami materi pembelajaran akan menyampaikan banyak
pertanyaan dan guru akan menjelaskannya secara langsung.
Simpulan dan saran
Berdasarkan
uraian mengenai hasil inovasi pembelajaran yaitu penerapan model pembelajaran Flipped Classroom dengan media Video
Pembelajaran pada Pembelajaran Fisika di MAN 2 Bandung, maka dapat disimpulkan
hal-hal berikut :
1.
Model
Flipped Classroom atau model kelas
terbalik merupakan model pembelajaran inovatif yang menggabungkan kelas
konvensional dengan media video pembelajaran yang berbasis TIK.
2.
Model
Flipped Classroom merupakan model pembelajaran yang dapat
meningkatkan efektifitas pembelajaran di kelas, baik dilihat dari proses
pembelajarannya, interaksi antar pendidik dan anak didik, interaksi antar
peserta didik dan sumber belajar, atau efektifitas alokasi waktu
pembelajarannya. Jika efektifitas bisa tercapai maka memudahkan pencapaian
tujuan pembelajaran.
3.
Model
Flipped Classroom dapat menumbuhkan keterampilan belajar
abad 21 sesuai dengan tuntutan kurikulum nasional dan perkembangan zaman.
Berkaitan
dengan penerapan Model Flipped
Classroom dengan media video pembelajaran,
disarankan hal-hal berikut :
1. Media
video pembelajaran yang digunakan sebaiknya adalah video pembelajaran karya guru sendiri agar
konten video sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan
2. Jika
pendidik menggunakan video hasil karya orang lain, pastikan terlebih dahulu
kontennya apakah telah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang terdapat dalam
RPP.
3. Model
pembelajaran Flipped Classroom dapat dikolaborasikan dengan
metode-metode lainnya, dan dengan media pembelajaran selain video pembelajaran.
JIka anda memiliki pertanyaan untuk didiskusikan silahkan, tulis di kolom komentar !
Daftar
Pustaka
Darmawan,
Arief (2018), Membuat Media Video Pembelajaran, Modul Diklat Pembatik level 2,
Pustekom Kemendikbud Jakarta.
Muthmainah,
Siti (2018), Model Pembelajaran Flipped
Classroom, Modul Diklat Pembatik level 3, Pustekom Kemendikbud Jakarta.
https://www.gurusukses.com/mengenal-pembelajaran-model-flipped-classroom
diunduh 19 oktober 2019 pukul 21.53
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/mpe/article/viewFile/5909/4613
diunduh 19 oktober 2019 pukul 21.00
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/jpf/article/viewFile/9545/pdf
diunduh 19 oktober 2019 pukul 21.53
https://ainamulyana.blogspot.com/2015/09/model-model-pembelajaran-inovatifdan.html diunduh
29 oktober 2019
http://eprints.ummi.ac.id/354/3/33.%20PENERAPAN%20VIDEO%20SEBAGAI%20M
EDIA%20PEMBELAJARAN.pdf
diunduh 31 oktober 2019 pukul
14.00




















