Sabtu, 28 Desember 2019

FLIPPED CLASSROOM

Sumber : model pembelajaran inovatif (muthmainnah, 2018)

PENERAPAN MODEL FLIPPED CLASSROOM  DENGAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN  PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI MAN 2 BANDUNG



1. Pendahuluan

Perkembangan teknologi saat ini telah mempengaruhi kehidupan manusia di segala bidang, termasuk dunia pendidikan. Penggunaan teknologi di dunia pendidikan sudah tidak bisa dihindari lagi. Teknologi yang sering digunakan di dunia pendidikan adalah penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Begitu tidak terbatasnya informasi yang terdapat dalam internet dan kemudahan aksesnya yang begitu cepat menjadikan internet dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran bagi guru. Sementara  untuk siswa dapat digunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan memperoleh informasi tambahan yang tak terbatas sesuai dengan materi yang diperolehnya di kelas. 
Model pembelajaran yang digunakan di kelas pun harus dapat mengakomodir kemajuan teknologi tersebut. Model model pembelajaran inovatif banyak dikembangkan dengan tujuan untuk memberi pengalaman belajar yang berbeda kepada peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik harus dapat menumbuhkembangkan keterampilan belajar abad 21 yang kita kenal dengan istilah 4C yaitu Communication, Colaboration, Critical Thinking and problem solving, serta Creativity and Innovation. Model pembelajaran inovatif sangat berbeda dengan model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran inovatif sangat menekankan prinsip student centered  artinya pembelajaran lebih memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri dan dimediasi oleh teman sebaya. Menurut  Mulyana (2015) Pembelajaran inovatif biasanya berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sehingga membantu peserta didik untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Jadi peserta didik memperoleh pengetahuan melalui proses belajarnya. 
    Keberhasilan suatu proses pembelajaran ditunjukkan oleh pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang menarik belum tentu dapat memastikan tercapainya             tujuan   pembelajaran,    karena tercapainya       tujuan   dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik pembelajaran serta  pemilihan media pembelajaran yang digunakan. Media pembelajaran sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Seringkali proses pembelajaran yang kita lakukan di kelas berlangsung secara tidak efektif, banyak waktu, tenaga dan biaya terbuang sia-sia, sedangkan tujuan pembelajaran tidak berhasil dicapai. Bahkan proses komunikasi antara pendidik dan peserta didik pun tidak berjalan efektif dan efisien. Dengan penggunaan media dalam pembelajaran maka tradisi lisan dan tulisan dapat diperkaya dengan berbagai media pembelajaran. 
            Dalam proses pembelajaran, seorang pendidik dapat menciptakan sebuah situasi kelas, memilih metode pembelajaran yang akan digunakan, dan menciptakan iklim emosional yang positif antar peserta didik. Bahkan seorang pendidik dapat menggunakan media pembelajaran yang akan membantunya dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan media pembelajaran, pendidik dapat membawa sesuatu yang abstrak menjadi konkrit ke dalam ruang kelas. sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh peserta didik. Pemilihan media pembelajaran yang tepat dapat membawa pembelajaran berjalan efektif dan efisien, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pendidik,  menggunakan model pembelajaran konvensional dalam menyelenggarakan pembelajaran, dimana informasi disampaikan secara langsung dari pendidik kepada peserta didik memiliki banyak kelemahan. Salah satu diantara kelemahan tersebut adalah terbatasnya interaksi antara siswa dengan siswa, dan interaksi antara siswa dengan sumber belajar, karena informasi disajikan langsung oleh guru. Sehingga pola komunikasi yang terjadi hanya satu arah yaitu dari pendidik kepada peserta didik. Pola seperti ini menghasilkan proses pembelajaran yang monoton, peserta didik lebih cepat bosan dengan kegiatan pembelajaran, dan hasil belajar yang kurang memuaskan. Proses pembelajaran dengan pola komunikasi searah memerlukan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan materi sesuai target kurikulum. Sehingga tujuan pembelajaran secara umum tidak mudah tercapai.
Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dan untuk memudahkan mencapai tujuan pembelajaran maka diperlukan sebuah model pembelajaran inovatif yang dapat mengefektifkan kegiatan pembelajaran di kelas, baik dari segi interaksi siswa maupun dari efektifitas waktu yang digunakan dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran Flipped Classroom atau yang dikenal dengan istilah kelas terbalik. Prinsip pembelajaran dengan model flipped Classroom adalah membalikan aktivitas pembelajaran peserta didik. Pada model ini apa apa yang biasa dilakukan di sekolah dapat dilakukan di rumah dan apa apa yang biasa di lakukan di rumah dapat dilakukan di sekolah (Bergmann – Sams (2012) dalam modul pembelajaran inovatif). Jika dalam kelas konvensional, guru menyampaikan materi pelajaran di kelas dan kemudian memberi tugas pekerjaan untuk dikerjakan di rumah, maka dalam flipped classroom guru memberikan tugas terlebih dahulu kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan dipelajarinya di kelas. Dalam model Flipped Classroom guru menyediakan media pembelajaran berupa video pembelajaran, bahan ajar, referensi dan lainlain yang dapat mendukung proses belajar peserta didik di rumah. 
Pemilihan media pembelajaran dalam flipped classroom harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik saat ini. Di tengah kemajuan teknologi smartphone yang semakin canggih peserta didik sudah terbiasa dengan menggunakan smartphone untuk melakukan aktivitas belajarnya. Sehingga paradigma cara belajar peserta didik mengalami pergeseran  dari tulisan kepada visual. Sehingga media pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran flipped classroom adalah video pembelajaran.
            Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka judul yang saya ambil dalam laporan karya inovasi ini adalah penerapan model Flipped Classroom dengan media video pembelajaran pada pembelajaran Fisika di MAN 2 Bandung. 

2. Model Pembelajaran Flipped Classroom

Flipped Classroom atau kelas terbalik merupakan suatu model pembelajaran yang membalikkan kondisi kelas konvensional. Istilah flip Classroom pertama kali dikenalkan oleh J. Wesley Baker dari Universitas Cedarville. Namun secara manual tutorial Flipped Classroom dibuat oleh Jonathan Bergman dan Aaron Sams (Nofrion:2018). Lebih lanjut Flipped Classroom dijelaskan sebagai suatu metode pembelajaran yang dibentuk dari Blended Learning yaitu pembelajaran yang menggabungkan kelas konvensional dengan kelas berbasis TIK. Dalam Flipped Classroom peserta didik mempelajari video pembelajaran atau mendengarkan rekaman pembelajaran yang dilakukannya di rumah, kemudian  mereka berdiskusi, bertukar pengetahuan, menyelesaikan masalah, dengan bantuan peserta didik lain maupun pendidik, melatih peserta didik mengembangkan kefasihan prosedural jika diperlukan, dan membantu peserta didik dengan proyek-proyek yang menantang dengan kontrol belajar yang lebih besar (Muthmainah:2018). 

Ada empat aspek yang harus dilakukan pendidik dalam menerapkan Flipped Classroom, yaitu :
1.     Flexibel Environtment (Lingkungan yang fleksibel)
Dalam menciptakan lingkungan yang fleksibel, pendidik harus melakukan halhal berikut:
-       Pendidik harus mampu merancang waktu dan ruang belajar sesuai kebutuhan peserta didik.
-       Pendidik mengamati dan mengawasi peserta didik untuk membuat penilaian yang tepat
-       Pendidik menyediakan beragam cara bagi peserta didik untuk mempelajari dan menguasai konten.
2.     Learning culture (budaya belajar)
Untuk menciptakan budaya belajar, pendidik harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran mandiri, serta memecah konten/ materi dalam beberapa tahapan agar mudah dipahami oleh semua peserta didik dengan cara yang berbeda.
3.     Intentional Content (Konten yang dibuat)
Konten yang dibuat harus mengutamakan konsep yang digunakan pada instruksi langsung agar dapat dipahami peserta didik dengan caranya sendiri. Pendidik mengembangkan konten yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pendidik menyediakan beragam konten agar mudah diakses dan relevan untuk semua peserta didik.
4.     Professional Educator ( pendidik yang professional)
Pendidik harus berperan sebagai pendidik yang professional yang mampu membimbing semua peserta didik baik secara individu maupun kelompok dan memberikan umpan balik. Pendidik melakukan penilaian formatif selama pembelajaran di kelas berlangsung melalui pengamatan untuk menginformasikan instruksi berikutnya. Pendidik berkolaborasi dan melakukan refleksi dengan pendidik lainnya.  

Pembelajaran Flipped Classroom dapat digambarkan dengan skema berikut ini :  
Gambar 2.1. Skema Flipped Classroom
Sumber : model pembelajaran inovatif (muthmainnah, 2018)

Berdasarkan skema diatas, model pembelajaran Flipped Classroom terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
1.     Before Class
Dalam kegiatan before Class guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk menonton video pembelajaran yang telah disediakan oleh guru. Peserta didik mengamati dan mempelajari video pembelajaan yang diberikan oleh guru, membuat catatan dan menuliskan pertanyaan tentang apa apa yang belum dipahaminya selama mempelajari video tersebut.
2.     During Class
Pada kegiatan pembelajaran di kelas peserta didik mendiskusikan hasil pemahamannya terhadap materi yang sudah dipelajari dalam kelompoknya, antar peserta didik berkolaborasi dan bertukar informasi, sesuai dengan pemahamannya, kemudian peserta didik mempresentasikan hasil pemahamannya tersebut dalam diskusi kelas. Guru memberikan penguatan terhadap hasil presentasi peserta didik. Di dalam kegiatan pembelajaran guru bisa juga memberikan soal pemecahan masalah yang harus dicarikan solusinya, menyelenggarakan eksperimen dan peserta didik bekerja sama untuk mencari solusi permasalahan yang diberikan guru atau melakukan eksperimen. 
3.     After Class
Setelah kegiatan pembelajaran peserta didik memeriksa kembali pemahaman mereka dan memperluas pembelajaran mereka. 

3.   Video Sebagai Media Pembelajaran
Video merupakan sebuah media elektronik yang menggabungkan teknologi audio dan visual secara bersama, sehingga menghasilkan suatu tayangan yang dinamis dan menarik. Video dapat dikemas menjadi VCD atau DVD sehingga mudah dibawa kemana-mana, mudah digunakan dan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan lebih menarik. (Yudianto,2017). Video dapat menyajikan pesan berupa fakta (kejadian, peristiwa penting, berita) maupun fiktif seperti misalnya cerita, bisa bersifat informatif, edukatif maupun instruksional, Sadiman dalam Darmawan (2018).
Menurut Azhar Arsyad dalam Darmawan (2018), Media video yang digunakan dalam proses belajar mengajar memiliki banyak manfaat dan keuntungan, diantaranya adalah :
1.     video dapat mengganti alam sekitar dan dapat menunjukkan objek yang secara normal tidak dapat
dilihat oleh siswa, seperti proses pencernaan dan pernafasan, cara kerja jantung dan lain lain.
2.     Video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat dilihat secara berulang ulang 
3.     Video dapat mendorong dan meningkatkan motivasi siswa untuk tetap melihatnya samapi selesai.
Pemanfaatan Video Pembelajaran sebagai media dalam pembelajaran  memiliki fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif dan fungsi kompensatoris, Arsyad dalam Yudianto (2017). Fungsi atensi yaitu dapat menarik perhatian dan mengarahkan konsentrasi audien pada materi video. Fungsi afektif yaitu media video mampu menggugah emosi dan sikap audiens. Fungsi kognitif yaitu media video dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan atau informasi yang terkandung dalam gambar atau lambing. Sedangkan fungsi kompensatoris adalah memberikan konteks kepada audien yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi yang telah diperoleh. Jadi media video dapat membantu peserta didik yang slow learner menjadi mudah menerima dan memahami pesan yang disampaikan. 
Di era milenial seperti sekarang ini, kita dapat dengan mudah memperoleh aneka macam video pembelajaran. Namun kita sebagai pendidik harus selektif dalam memilih video sebagai media. Hal ini dilakukan agar video pembelajaran yang kita gunakan sebagai media benar-benar memiliki konten yang sesuai dengan kurikulum yang kita gunakan dan untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran yang sudah tertera dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk memastikan bahwa video pembelajaran yang kita gunakan sebagai media pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan, maka disarankan pendidik harus membuat video pembelajarannya sendiri. Sudah banyak aplikasi yang ada yang bisa kita gunakan untuk membuat video pembelajaran, diantaranya Camtasia, filmora, Kinemaster dan lain-lain. 
Video sebagai media pembelajaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain. Adapun karakteristik media video yaitu :
1.     Menampilkan gambar dan gerak serta suara secara bersamaan
2.     Mampu menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas, karena terlalu besar (seperti gunung), terlalu kecil seperti bakteri, terlalu abstrak seperti bencana, terlalu rumit seperti proses produksi, terlalu jauh seperti kehidupan di kutub dan sebagainya.
3.     Mampu mempersingkat proses, seperti penyemaian padi hingga panen.
        4.    Memungkinkan adanya rekayasa (animasi). 

Sebagai media pembelajaran, video memiliki kelebihan dan kelemahan. 
Adapun kelebihan video sebagai media adalah :
-       Dapat menstimulir efek gerak
-       Dapat diberi suara dan warna
-       Tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya
-       Tidak memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya
-       Dapat diputar ulang, diberhentikan sebentar dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Adapun kekurangan media video pembelajaran adalah :
-       Memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya
-       Memerlukan tenaga listrik
-       Memerlukan keterampilan khusus dan kerja tim dalam pembuatannya
-     Sulit dibuat interaktif 

4. Model Flipped Classroom pada Pembelajaran Fisika 
Penerapan Model Flipped Classroom pada pembelajaran fisika sama seperti penerapan model-model lain, diperlukan perencanaan yang matang yang tertuang dalam RPP dan persiapan media pembelajaran yang akan di gunakan  sebagai media dalam pembelajaran. Diawali dengan pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan membuat video pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Model Flipped Classroom atau model kelas terbalik adalah model pembelajaran yang berbeda dengan model pembelajaran konvensional, pada model ini apa apa yang biasa dilakukan di sekolah dapat dilakukan di rumah dan apa apa yang biasa di lakukan di rumah dapat dilakukan di sekolah  (Bergmann – Sams, 2012) dalam muthmainah modul pembelajaran inovatif.  Pada model ini terdapat 3 tahap proses pembelajaran, yaitu Before class, during class dan After class. Pada video pembelajaran yang dibuat ditampilkan pembelajaran pada konsep Gaya Coloumb dengan 3 tahapan pada Flipped Classroom. Kegiatan pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut : 

a. Before Class
  • Guru memberi tugas rumah seminggu sebelumnya kepada peserta didik untuk mengamati video pembelajaran yang berjudul Gaya Coulomb, Siswa mengamati dan menonton video pembelajaran di rumah. 

Gambar 4.1. Peserta didik sedang menonton Video Pembelajaran 
Sumber : Koleksi Pribadi (2019)
  • Siswa membuat catatan-catatan kecil mengenai apa-apa yang telah dipahaminya selama menonton video pembelajaran
  • Siswa menuliskan pertanyaan tentang apa-apa yang belum dipahaminya selama menonton video pembelajaran 
b. During Class 

Pada saat pembelajaran :
  • Guru melakukan apersepsi, motivasi dan review materi pertemuan sebelumnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran. 
                                                                                                                                     
  • Guru memimpin diskusi kelas untuk mengetahui sejauh mana pemahaman materi peserta didik yang terdapat dalam video pembelajaran 

  • Peserta didik duduk berkelompok, menyampaikan pemahaman materi berdasarkan video pembelajaran yang sudah dilihatnya dalam diskusi kelas, secara bergantian tiap kelompok
                                                                                                                         
  • Guru memberikan penguatan terhadap materi-materi yang sudah dipahami peserta didik
  • Guru memberikan permasalahan tiap kelompok untik didiskusikan dalam kelompoknya
                                                                                                                             
  • Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan yang disampaikan guru
  • Siswa membuat media presentasi untuk dipresentasikan di depan kelas
  • Guru memberikan arahan dan bimbingan tiap kelompok
  • Setelah selesai membuat media presentasi perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
  • Pada akhir pembelajaran, siswa dan guru membuat kesimpulan hasil pembelajaran
  • Guru melakukan penilaian pembelajaran dan memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya 
c. After Class
  • Siswa mengecek kembali pemahamannya tentang materi yang sudah dipelajarinya
  • Siswa mempelajari kembali materi materi yang ditugaskan oleh guru 
Dengan menggunakan model Flipped Classroom siswa dilatih untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab.
Adapun materi yang disampaikan pada pembelajaran ini diambil dari materi Fisika kelas XII pada bab Listrik Statis dengan tema Gaya Coulomb.

Penerapan model Flipped Classroom didokumentasikan dalam video berikut 

Video diatas dapat anda akses di https://youtu.be/jc0JrKveqo4

Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran Flipped Classroom adalah :
1.    Pembelajaran dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran, disukai oleh mayoritas peserta didik, karena di tengah kemajuan TIK yang semakin pesat, kegemaran peserta didik menjadi bergeser ke arah visual. Guru dapat mengubah ketertarikan visual peserta didik dengan menggunakan video pembelajaran.
2.    Flipped Classroom lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional karena dengan media video pembelajaran peserta didik dapat mengatur kecepatan belajarnya, apabila belum memahami materi pembelajaran peserta didik dapat mengulang-ulangi pembelajaran sesuai pemahamannya. Dengan cara ini memungkinkan peserta didik mencapai tujuan pembelajarannya secara efektif, dibandingkan dengan mendengarkan ceramah guru yang pengulangannya terbatas.
3.    Peserta didik terlatih untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab, karena menonton video dilakukan secara mandiri di rumahnya. Jika peserta didik belum memahami materi yang dilihatnya ia akan membuat pertanyaan yang akan didiskusikan di kelas, denagn begitu peserta didik belajar bertanggungjawab atas kegiatan belajarnya.
4.    Pembelajaran lebih memperhatikan siswa sebagai individu dan menyeluruh, artinya guru dapat memberi pelayanan secara individual bagi peserta didik yang membutuhkannya hal ini terlihat dari pertanyaan yang disampaikan peserta didik. Jika pertanyaannya homogen maka guru dapat menjelaskan materi secara klasikal, dan apabila pertanyaannya heterogen guru menjelaskan hanya kepada siswa yang membutuhkannya saja.
5.    Dalam pembelajaran model Flipped Classroom, siswa yang mempunyai masalah belajar akan lebih banyak terbantu, karena peserta didik yang belum memahami materi pembelajaran akan menyampaikan banyak pertanyaan dan guru akan menjelaskannya secara langsung. 

Simpulan dan saran
Berdasarkan uraian mengenai hasil inovasi pembelajaran yaitu penerapan model pembelajaran Flipped Classroom dengan media Video Pembelajaran pada Pembelajaran Fisika di MAN 2 Bandung, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut :
1.    Model Flipped Classroom atau model kelas terbalik merupakan model pembelajaran inovatif yang menggabungkan kelas konvensional dengan media video pembelajaran yang berbasis TIK. 
2.    Model Flipped Classroom  merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran di kelas, baik dilihat dari proses pembelajarannya, interaksi antar pendidik dan anak didik, interaksi antar peserta didik dan sumber belajar, atau efektifitas alokasi waktu pembelajarannya. Jika efektifitas bisa tercapai maka memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran.
3.    Model Flipped Classroom  dapat menumbuhkan keterampilan belajar abad 21 sesuai dengan tuntutan kurikulum nasional dan perkembangan zaman.
Berkaitan dengan penerapan Model Flipped Classroom  dengan media video pembelajaran, disarankan hal-hal berikut :
1.    Media video pembelajaran yang digunakan sebaiknya adalah  video pembelajaran karya guru sendiri agar konten video sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
2.    Jika pendidik menggunakan video hasil karya orang lain, pastikan terlebih dahulu kontennya apakah telah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang terdapat dalam RPP.
3.    Model pembelajaran Flipped Classroom  dapat dikolaborasikan dengan metode-metode lainnya, dan dengan media pembelajaran selain video pembelajaran.

JIka anda memiliki pertanyaan untuk didiskusikan silahkan, tulis di kolom komentar !

Daftar Pustaka

Darmawan, Arief (2018), Membuat Media Video Pembelajaran, Modul Diklat Pembatik level 2, Pustekom Kemendikbud Jakarta.
Muthmainah, Siti (2018), Model Pembelajaran Flipped Classroom, Modul Diklat Pembatik level 3, Pustekom Kemendikbud Jakarta.



4 komentar:

  1. Bagi yang memiliki pertanyaan mengenai penerapan Flipped Classroom, dapat kita diskusikan disin

    BalasHapus
  2. Model pembelajaran flipped class room ini sepertinya membalikkan kebiasaan yg biasa dilakukan di kelas ya Bu? Anak tdk membawa PR ke rumah,tapi mencari materi di rumah. Klo anak yg terkendala dgn kuota atau sarana untuk mencari materi, bagaimana solusi yg bisa dilakukan guru?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bu yuli, jika anak terkendala dengan quota, anak bisa memanfaatkan fasilitas wifi sekolah, anak bisa mengerjakannya sepulang sekolah atau di waktu luang pembelajarannya. atau bisa juga mereka bekerja kelompok dengan teman yang memiliki quota.

      Hapus
  3. Siap...terima kasih Bu enung untuk penjelasannya

    BalasHapus

FLIPPED CLASSROOM